Rabu, 24 September 2008
Selasa, 23 September 2008
Data Mining (1) --> solusi penting untuk datawarehouse
Apa itu data mining..?
Data mining menurut buku didefinisikan sebagai satu teknik yang digunakan untuk mengekporasi secara menyeluruh dan memunculkan ke permukaan relasi-relasi yang kompleks pada suatu data base yang sangat besar(data warehouse).
Struktur data yang terlibat dalam data mining adalah struktur data yang tidak normal atau setidaknya sudah melalui proses denormalisasi, berbeda dengan struktuk data pada relational database yang mengsyaratkan bahwa struktur datanya adalah normal, sehingga dalam data mining sangat mungkin terjadinya redundancy data dalam tampilan tabulasinya.
Perbedaan itu disebabkan karena goal dari data mining berbeda dengan relational database, relational database lebih mengedepankan struktur data yang simple dan dalam rangka mengejar size data yang tidak terlalu besar, sementara dalam datamining mengedepankan kecepatan dalam tracing data dari berbagai dimensi yang dimungkinkan untuk proses tracing, hal ini karena data yang terlibat biasanya mempunyai size yang besar.
secara umum data mining memiliki kemampuan untuk untuk mengotomatisasi prediksi tren dan sifat-sifat bisnis, mengotomatisasi penemuan pola-pola yang tidak diketahui sebelumnya....ntar sambung lagi ah.
Data mining menurut buku didefinisikan sebagai satu teknik yang digunakan untuk mengekporasi secara menyeluruh dan memunculkan ke permukaan relasi-relasi yang kompleks pada suatu data base yang sangat besar(data warehouse).
Struktur data yang terlibat dalam data mining adalah struktur data yang tidak normal atau setidaknya sudah melalui proses denormalisasi, berbeda dengan struktuk data pada relational database yang mengsyaratkan bahwa struktur datanya adalah normal, sehingga dalam data mining sangat mungkin terjadinya redundancy data dalam tampilan tabulasinya.
Perbedaan itu disebabkan karena goal dari data mining berbeda dengan relational database, relational database lebih mengedepankan struktur data yang simple dan dalam rangka mengejar size data yang tidak terlalu besar, sementara dalam datamining mengedepankan kecepatan dalam tracing data dari berbagai dimensi yang dimungkinkan untuk proses tracing, hal ini karena data yang terlibat biasanya mempunyai size yang besar.
secara umum data mining memiliki kemampuan untuk untuk mengotomatisasi prediksi tren dan sifat-sifat bisnis, mengotomatisasi penemuan pola-pola yang tidak diketahui sebelumnya....ntar sambung lagi ah.
Melepas Kepergian Junjungan Tercinta
“ Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
[ Qs. At Taubah (9) : 128 ]
Senin 12 Rabi’ul awwal tahun Gajah (570 M) di Kota Mekkah, terlahirlah bayi yatim Muhammad ibnu Abdullah dari ibunda Sayyidah Aminah. Kelahirannya telah menggairahkan alam semesta, yang telah lama menanti datangnya Pewaris kesucian Baitullah, yang dijanjikan Allah Rabb semesta alam.
Tumbuh dewasa menjadi pribadi yang berjiwa luhur, jujur dan welas asih sesama manusia dan rakyat jelata, adalah buah Tarbiyyah Rabbaniyyah (pendidikan Allah langsung) dibalik kehidupan Muhammad SAW yang prihatin sebagai anak yatim-piatu. Sejarah hidupnya yang mandiri, juga merupakan pemeliharaan Allah atas kesucian dan kemerdekaan hati nuraninya, dari rasa keterjajahan dan hutang budi kepada siapapun. Sebab telah mempersiapkannya untuk menjalankan sebuah “Mission of Liberation”, yaitu tugas membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya kebenaran dan dari perbudakan sesama makhluk, kepada kemerdekaan hidup sebagai Hamba Allah sejati.
Sungguh! keagungan dan keluhuran akhlaq Nabi SAW yang ksatria, juga telah menawan hati semua kawan ataupun lawan. Dalam beberapa episode peperangan, Nabi SAW selalu konsisten mengajarkan kaum muslimin agar tidak membunuh manusia dan merusak alam tanpa alasan yang haq. Tawanan perang disantuni, tempat Ibadah dan ahlu Dzimmah dilindungi, fakir miskin disayangi bahkan etika dan hukum perang pun beliau hormati. Inilah yang menyebabkan dakwah Islam mendapat dukungan dan simpati dari ummat manusia, bahkan jin sekalipun. hal itu terlihat ketika pada Wuquf arafah, ribuan ummat manusia termasuk para penduduk Mekkah tunduk menyerah kepada Allah pasca futuh Mekkah.
Namun sesungguhnya, itulah momen perpisahan Rasul dengan ummat manusia yang tersirat dalam Khutbah Wada’ (pidato perpisahan). Sebab sepulangnya Nabi dan para sahabat ke Ibukota Daulah Islamiyyah di Madinah Al Munawwarah, tiba-tiba di akhir bulan shafar Nabi Muhammad SAW jatuh sakit. Beliau mengalami demam dan sakit kepala yang sangat berat, hingga minta kepalanya diikat kain dan tubuhnya diguyur dengan air tujuh bejana karena panasnya yang tinggi. Ya Allah !…
Suasana Madinah pun sekejap berubah. Mendung kesedihan dan duka menggelayuti seisi kota atas derita sakit yang dialami oleh nabi saw. Dipinggir-pinggir jalan, di balik rumah-rumah para sahabat dan didalam Masjid Nabawi, terdengar isak tangis kecil seiring lantunan doa-doa agar kiranya Nabi SAW, Kepala Negara yang mereka cintai dapat sembuh dan sehat kembali.
Menyaksikan hal itu, Nabi saw pun ingin menghibur hati ummatnya. Disuatu pagi setelah memimpin sholat shubuh bersama para sahabatnya, beliau dengan suara lemah menyampaikan sabdanya : “Wahai para sahabatku, ada seseorang yang Allah suruh dia memilih antara dunia atau akhirat. Maka ia memilih akhirat dan berada disisi tuhan-Nya”. Nabi kemudian terdiam, namun Abu Bakar langsung mengerti, bahwa yang dimaksud adalah pribadi Nabi sendiri. Lalu dengan berurai air mata dan kata-kata tertahan tangisan, Abu Bakar memeluk tubuh Nabi SAW sambil berkata : Tidak ya Rasulullah !…bahkan engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami “. Rasulullah saw mencoba menenangkan sahabat dekatnya itu, sambil bersabda : “Kalaulah ada yang boleh kuambil sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Tuhan mempertemukan kita”. Wahai para sahabat! siapa diantara kalian yang aku masih punya hutang kepadanya, mintalah hari ini kepadaku. Siapa diantara kalian yang pernah aku sakiti, balaslah hari ini kepadaku! Sebab aku tidak ingin berjumpa dengan Rabbku dengan membawa beban kalian belum aku selesaikan “. Konon, tiba-tiba berdiri seorang sahabat : Aku ya Rasulullah!, aku ingin membalas pukulanmu terhadapku waktu itu. Maka tersentaklah semua sahabat, tak kuasa mereka menyaksikan adanya sahabat yang masih tega untuk membalas Nabi. Rasulullah lalu berkata : “Pukullah, wahai sahabatku dimana saja yang engkau kehendaki “. Maka sahabat itu berkata : Ya Rasul! Engkau pernah memukul punggungku. Maka aku ingin engkau membuka baju dipunggungmu, sebagaimana dahulu engkau pernah pukul aku tanpa mengenakan baju!. Maka tatkala Nabi akan memperlihatkan punggungnya, semua sahabat tertunduk menangis, tak tega menyaksikan penderitaan Nabi, terlebih beliau dalam keadaan sakit parah. Tiba-tiba sahabat tersebut justru memeluk tubuh Nabi, sambil menangis : Ya Rasulullah!. siapakah yang tega menyakitimu. Telah lama aku rindu ingin memeluk tubuhmu yang telah mencurahkan hidupnya untuk mengasihi dan menyayangi kami, ummatmu” Pagi itu, air mata cinta dan persaudaraan, bercucuran antara Rasulullah dengan rakyatnya tercinta.
Senin subuh 12 Rabi’ul Awwal atau 8 Juni 632, Nabi SAW terlihat sehat kembali sehingga banyak sahabat yang menyangka Rasul telah pulih dari sakitnya. Namun sepulang dari masjid Nabawi, menuju rumah Aisyah. Tiba-tiba sakit kepalanya datang kembali, bahkan terasa lebih berat dan payah sekali. Menyaksikan keadaan Nabi yang tak berdaya, Aisyah paham bahwa ajal telah datang untuk menjemput kekasihnya. Maka dengan segera Rasulullah saw diletakkan dalam dekapan pangkuannya. Dalam tatapan mata yang iklhas dan pasrah, Rasulullah saw berdo’a : Ya Allah tolonglah aku dalam sakaratul maut!…ya Allah tolonglah aku dalam sakaratul maut!. Aisyahpun tak kuasa menahan tangis dan air matanya, diusapnyalah wajah Rasulullah saw yang dicintainya, sedangkan nabi terus berdo’a ; wahai Allah yang Maha Tinggi, kumpulkanlah aku bersama para nabi-Mu di tempat tertinggi..wahai Allah yang Maha Tinggi kumpulkanlah aku bersama mereka ditempat tertinggi…..maka beliaupun menghembuskan nafasnya terakhir disaksikan Aisyah yang menangis dan dan memeluk Nabi sekuat-kuatnya. Histeria tangisan Aisyah, mengundang isteri-isteri nabi dan para sahabat lainnya berdatangan. Maka pecahlah tangisan kaum muslimin dengan linangan air mata kesedihan dan rasa pilu kehilangan pimpinannya yang agung. Daulah Islamiyyah Madinah dan alam semesta raya seluruhnya hari itu berkabung, dalam duka cita yang tak bisa lagi diungkapkan. Innalillahi wainnailahi raji’un. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepadamu, Ya Rasulallah..Ya Habiballah… junjungan kami tercinta.Amien
dikutip dari buletin : Ad-Dien;
[ Qs. At Taubah (9) : 128 ]
Senin 12 Rabi’ul awwal tahun Gajah (570 M) di Kota Mekkah, terlahirlah bayi yatim Muhammad ibnu Abdullah dari ibunda Sayyidah Aminah. Kelahirannya telah menggairahkan alam semesta, yang telah lama menanti datangnya Pewaris kesucian Baitullah, yang dijanjikan Allah Rabb semesta alam.
Tumbuh dewasa menjadi pribadi yang berjiwa luhur, jujur dan welas asih sesama manusia dan rakyat jelata, adalah buah Tarbiyyah Rabbaniyyah (pendidikan Allah langsung) dibalik kehidupan Muhammad SAW yang prihatin sebagai anak yatim-piatu. Sejarah hidupnya yang mandiri, juga merupakan pemeliharaan Allah atas kesucian dan kemerdekaan hati nuraninya, dari rasa keterjajahan dan hutang budi kepada siapapun. Sebab telah mempersiapkannya untuk menjalankan sebuah “Mission of Liberation”, yaitu tugas membebaskan ummat manusia dari kegelapan kepada cahaya kebenaran dan dari perbudakan sesama makhluk, kepada kemerdekaan hidup sebagai Hamba Allah sejati.
Sungguh! keagungan dan keluhuran akhlaq Nabi SAW yang ksatria, juga telah menawan hati semua kawan ataupun lawan. Dalam beberapa episode peperangan, Nabi SAW selalu konsisten mengajarkan kaum muslimin agar tidak membunuh manusia dan merusak alam tanpa alasan yang haq. Tawanan perang disantuni, tempat Ibadah dan ahlu Dzimmah dilindungi, fakir miskin disayangi bahkan etika dan hukum perang pun beliau hormati. Inilah yang menyebabkan dakwah Islam mendapat dukungan dan simpati dari ummat manusia, bahkan jin sekalipun. hal itu terlihat ketika pada Wuquf arafah, ribuan ummat manusia termasuk para penduduk Mekkah tunduk menyerah kepada Allah pasca futuh Mekkah.
Namun sesungguhnya, itulah momen perpisahan Rasul dengan ummat manusia yang tersirat dalam Khutbah Wada’ (pidato perpisahan). Sebab sepulangnya Nabi dan para sahabat ke Ibukota Daulah Islamiyyah di Madinah Al Munawwarah, tiba-tiba di akhir bulan shafar Nabi Muhammad SAW jatuh sakit. Beliau mengalami demam dan sakit kepala yang sangat berat, hingga minta kepalanya diikat kain dan tubuhnya diguyur dengan air tujuh bejana karena panasnya yang tinggi. Ya Allah !…
Suasana Madinah pun sekejap berubah. Mendung kesedihan dan duka menggelayuti seisi kota atas derita sakit yang dialami oleh nabi saw. Dipinggir-pinggir jalan, di balik rumah-rumah para sahabat dan didalam Masjid Nabawi, terdengar isak tangis kecil seiring lantunan doa-doa agar kiranya Nabi SAW, Kepala Negara yang mereka cintai dapat sembuh dan sehat kembali.
Menyaksikan hal itu, Nabi saw pun ingin menghibur hati ummatnya. Disuatu pagi setelah memimpin sholat shubuh bersama para sahabatnya, beliau dengan suara lemah menyampaikan sabdanya : “Wahai para sahabatku, ada seseorang yang Allah suruh dia memilih antara dunia atau akhirat. Maka ia memilih akhirat dan berada disisi tuhan-Nya”. Nabi kemudian terdiam, namun Abu Bakar langsung mengerti, bahwa yang dimaksud adalah pribadi Nabi sendiri. Lalu dengan berurai air mata dan kata-kata tertahan tangisan, Abu Bakar memeluk tubuh Nabi SAW sambil berkata : Tidak ya Rasulullah !…bahkan engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami “. Rasulullah saw mencoba menenangkan sahabat dekatnya itu, sambil bersabda : “Kalaulah ada yang boleh kuambil sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku. Tetapi persahabatan dan persaudaraan ialah dalam iman, sampai tiba saatnya Tuhan mempertemukan kita”. Wahai para sahabat! siapa diantara kalian yang aku masih punya hutang kepadanya, mintalah hari ini kepadaku. Siapa diantara kalian yang pernah aku sakiti, balaslah hari ini kepadaku! Sebab aku tidak ingin berjumpa dengan Rabbku dengan membawa beban kalian belum aku selesaikan “. Konon, tiba-tiba berdiri seorang sahabat : Aku ya Rasulullah!, aku ingin membalas pukulanmu terhadapku waktu itu. Maka tersentaklah semua sahabat, tak kuasa mereka menyaksikan adanya sahabat yang masih tega untuk membalas Nabi. Rasulullah lalu berkata : “Pukullah, wahai sahabatku dimana saja yang engkau kehendaki “. Maka sahabat itu berkata : Ya Rasul! Engkau pernah memukul punggungku. Maka aku ingin engkau membuka baju dipunggungmu, sebagaimana dahulu engkau pernah pukul aku tanpa mengenakan baju!. Maka tatkala Nabi akan memperlihatkan punggungnya, semua sahabat tertunduk menangis, tak tega menyaksikan penderitaan Nabi, terlebih beliau dalam keadaan sakit parah. Tiba-tiba sahabat tersebut justru memeluk tubuh Nabi, sambil menangis : Ya Rasulullah!. siapakah yang tega menyakitimu. Telah lama aku rindu ingin memeluk tubuhmu yang telah mencurahkan hidupnya untuk mengasihi dan menyayangi kami, ummatmu” Pagi itu, air mata cinta dan persaudaraan, bercucuran antara Rasulullah dengan rakyatnya tercinta.
Senin subuh 12 Rabi’ul Awwal atau 8 Juni 632, Nabi SAW terlihat sehat kembali sehingga banyak sahabat yang menyangka Rasul telah pulih dari sakitnya. Namun sepulang dari masjid Nabawi, menuju rumah Aisyah. Tiba-tiba sakit kepalanya datang kembali, bahkan terasa lebih berat dan payah sekali. Menyaksikan keadaan Nabi yang tak berdaya, Aisyah paham bahwa ajal telah datang untuk menjemput kekasihnya. Maka dengan segera Rasulullah saw diletakkan dalam dekapan pangkuannya. Dalam tatapan mata yang iklhas dan pasrah, Rasulullah saw berdo’a : Ya Allah tolonglah aku dalam sakaratul maut!…ya Allah tolonglah aku dalam sakaratul maut!. Aisyahpun tak kuasa menahan tangis dan air matanya, diusapnyalah wajah Rasulullah saw yang dicintainya, sedangkan nabi terus berdo’a ; wahai Allah yang Maha Tinggi, kumpulkanlah aku bersama para nabi-Mu di tempat tertinggi..wahai Allah yang Maha Tinggi kumpulkanlah aku bersama mereka ditempat tertinggi…..maka beliaupun menghembuskan nafasnya terakhir disaksikan Aisyah yang menangis dan dan memeluk Nabi sekuat-kuatnya. Histeria tangisan Aisyah, mengundang isteri-isteri nabi dan para sahabat lainnya berdatangan. Maka pecahlah tangisan kaum muslimin dengan linangan air mata kesedihan dan rasa pilu kehilangan pimpinannya yang agung. Daulah Islamiyyah Madinah dan alam semesta raya seluruhnya hari itu berkabung, dalam duka cita yang tak bisa lagi diungkapkan. Innalillahi wainnailahi raji’un. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepadamu, Ya Rasulallah..Ya Habiballah… junjungan kami tercinta.Amien
dikutip dari buletin : Ad-Dien;
Langganan:
Postingan (Atom)
